Skip to main content

Taking Higher Step

Beberapa bulan yang lalu, aku berhasil menamatkan pendidikan menengah kejuruan yang telah kutempuh selama tiga tahun. Totally, I had been student for 12 years. Yeah, 6 years in elementary, 3 years in junior high school, and the last 3 years in vocational high school. I'm not a junior kid anymore. I'm going to be 18 this month. I'm taking the higher step of my life.
Lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan memang menjadi targetku sedari awal. Aku, lagi-lagi, berkeinginan mencetak rekor bagi diriku sendiri untuk menjadi lulusan terbaik. Dan, lagi-lagi, aku berkeinginan membuat kedua orangtuaku bangga dan bahagia.

Delapanbelas tahun berada di bawah pelukan orangtua, aku merasa cukup menjadi benalu mereka. Aku ingin menjadi mandiri. Sebagai anak tertua, aku bertekad untuk meraih kesuksesan di umur muda untuk membantu finansial keluarga, agar bisa menjadi contoh bagi adik-adikku.

Tahun lalu, aku berhasil membuat rekor terbesar sepanjang sejarah hidupku. Meraih medali emas, menjadi juara pertama tingkat nasional. Ya, itu prestasi terbesarku sepanjang perjalanan pendidikanku. Bukan hanya rekor bagi diriku sendiri, tetapi juga rekor baru bagi keluargaku, sekolahku, dan provinsi tempat tinggalku saat ini. Benar-benar sebuah kurnia yang luar biasa, yang tak akan pernah tenggelam ditelan waktu. Rekor itu pula menjadi titik baru perjuanganku. Sejak itu, aku bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Setelah pencapaian luar biasa itu, aku menerima sejumlah beasiswa. Setidaknya, aku berhasil meringankan beban keuangan keluarga. Orangtuaku tak perlu lagi membayar biaya pendidikan aku seorang setiap bulan setelah itu. Ditambah, aku mendapatkan keringanan saat mendaftar di salah satu universitas swasta.

Aku merasa lebih dewasa melalui berbagai penempaan. Mulai dari rumah, sekolah, hingga kegiatan berorganisasi. Aku mulai menemukan panduan hidupku. Fondasi, kerangka, hingga lapisan terluar, semuanya ditempa habis-habisan untuk menjadi lebih kuat.

Aku telah membulatkan tekadku untuk menempuh pendidikan tinggi di luar kota, karena aku ingin belajar mandiri. Aku tidak bisa menjadi mandiri bila terus berada di dekat dekapan orangtuaku. Selain itu, aku berpikir, adik-adikku bisa membantu orangtua dalam mengurus rumah. Sebab, selama ini, mereka jarang sekali melakukannya semenjak aku berusia remaja duluan.

Banyak bebatuan dan persimpangan yang menghalangi dan membingungkan alur jalanku ke sana. Awalnya, aku sangat meragukan keputusanku. Aku tahu, menggali ilmu di kota lain membutuhkan biaya yang cukup banyak. Dan jika orangtuaku tidak memiliki pendapatan, aku tidak akan mampu menyelesaikannya. Namun, seiring waktu, yang perlu aku lakukan adalah yakin terhadap diriku sendiri. Karena, akulah yang harus melalui perjalanan hidupku. Aku kembali membubuhkan tinta untuk membuat goresan tulisan pada tekadku, bahwa aku harus meringankan beban finansial keluarga. Salah satu cara yang terpikirkan olehku adalah dengan bekerja paruh waktu selama kuliah.

Aku berjanji pada diriku sendiri. Kembali ke kota ini, untuk orangtuaku, namun bukan dengan tangan kosong. Sebuah ikrar pribadi yang kubuat untuk mendorong semangatku agar terus mengalir sepanjang berjuang di kota lain. Sebuah ikrar yang akan membuatku tak lupa pada apa yang harus kucapai di sana. Dan ikrar ini merujuk pada kesuksesanku dalam berwirausaha. Tak muluk-muluk, aku tidak merencakan kapan akan kembali. Tapi, yang pasti, entrepreneur.

Esok hari, pada petang tepatnya, aku telah meninggalkan semua jejak perjalananku di kota ini. Semua jejak.

Sedih, iya. Bangga, iya. Aku harus menjadi berani, welas asih, kuat, dan arif. Aku selalu berupaya menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi matahari kebahagiaan yang ceria, pedoman pertama divisi pemudi Soka Gakkai, ini yang mendasari dan melapisi fondasi tekadku.

Hanya kenangan dan pengalaman yang kubawa. Berbekal restu orangtua, aku pergi. Pergi mencetak jejak perjalanan di kota orang. Ini seperti sebuah tantangan, dan aku menyukainya. Masa muda adalah masa emas bagiku. Selagi aku bisa menantang diriku menjadi pribadi yang lebih baik, kenapa tidak?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengembangkan pribadi. Setiap orang memiliki jalan masing-masing. Setiap orang memiliki potensi yang luar biasa. Yang perlu kita lakukan adalah memacu diri untuk mengguncang dunia menggunakan potensi yang luar biasa itu.

I am taking the higher step of my life. Turning 18 by making a better me. Creating brighter future for myself and my family.

Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kuat angin yang berhembus.

Jalani masa muda tanpa terkalahkan oleh apapun.



Jambi
7 Agustus 2015

Comments

Popular posts from this blog

Back to the moon

Long time no see!!! Setelah bertahun-tahun blog ini tidak dibuka dan berdebu, akhirnya hari ini aku kembali menulis sesuatu di sini. Bukan tanpa sebab seperti cuaca saat ini yang seringkali hujan deras sejenak, lalu reda dalam waktu beberapa menit. Tentu, ada alasan kenapa aku balik ke Blogspot. Jadi, ceritanya, pada tahun 2020 aku memindahkan tulisanku ke domain personal. Ya, aku membeli domain, membuat git repository , memindahkan sebagian tulisan ke sana, dan hosting. Setahun demi setahun berjalan, tulisan pun sudah bertambah banyak. Domain harus selalu diperpanjang tiap tahun. Dan, boom! Tahun ini aku tidak perpanjang tepat waktu. Alhasil, domainnya diisi dengan website judol :( Entah siapa yang membeli domain tersebut, padahal 'kan cuma personal blog. Kenapa harus diambil jadi website ilegal :( So sad... Oleh karena itu, aku kembali ke blogspot. Dan agar tulisan yang sudah ada di sana tidak hilang begitu saja, izinkan aku repost di blogspot ini yah. Hehehe.. So if you found ou...

23

"Happy birthday, Christine! Wish you all the best, God bless you!   🥳 " Mari mundur ke satu minggu sebelumnya. Malam hari abis makan di Bebek Goreng Masbob (bebeknya enak, boleh dicoba   👍 ) di BSD, seorang teman baikku berniat untuk donor darah. Dia memang rutin donor darah 3 bulan sekali. Kebetulan hari itu udah jadwalnya untuk donor darah lagi. Meskipun aku udah beberapa kali jadi panitia acara donor darah, tapi belum pernah donor satu tetespun. Alasan utamanya karena dulu berat badanku belum mencukupi. Fyi, salah satu syarat untuk donor darah adalah memiliki   berat badan minimal 45kg . Saat itu, aku udah tau berat badanku ada sekitar angka itu. Hehehe, iya, saya kurus. Jadi, aku penasaran dan sangat ingin merasakan donor darah sedari dulu. Kami pergi ke PMI di daerah BSD, saat itu juga. Sesuai dengan protokol kesehatan baru di tengah wabah COVID-19, setiap pengunjung harus pake masker dan cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu. Trus, ada pengecekan suhu tubuh oleh...

Bukan lagi dua, melainkan satu

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. (Matius 19:6) Pagi itu cerah. Kami selalu berdoa supaya cuaca ramah dan semesta turut merayakannya. Akhirnya, hari itu tiba juga. Kerah putih ditegakkan, mawar putih bermekaran. Tanda janji dinyatakan dalam kasih-Nya. 💍 Hari indah itu tidak akan terjadi tanpa doa dan dukungan orang-orang di sekitar kami. Restu orang tua, terutama. Kakak & adik jadi pemberi semangat. Disusul lingkungan yang suportif, teman yang menyayangi, jangan lupa dompet yang memenuhi. 😜 Persiapan kami hampir setahun dengan jasa organizer . Mereka beri rekomendasi, atur koordinasi, menjamin acara terlaksana tanpa distraksi. Kami terima beres. Ini mereka, @areli.organizer . Persiapan kami hampir setahun dengan penyertaan-Nya. Gereja yang kudus jadi saksi. Doa tak boleh putus. Bukan hanya di hari H saja, tapi untuk seterusnya. Karena yang seterusnya lebih menantang. Kata orang, into t...